Abu Nawas kaget bukan main ketika
seorang utusan Baginda Raja datang ke rumahnya. Ia harus menghadap Baginda
secepatnya. Entah permainan apa lagi yang akan dihadapi kali ini. Pikiran Abu
Nawas berloncatan ke sana kemari. Setelah tiba di istana, Baginda Raja
menyambut Abu Nawas dengan sebuah senyuman.تَعَلَّمُوْاالْعِلْمَ ، فّإِنَّ تَعَلُّمُهُ قُرْبَةٌ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ ، وَتَعْلِيْمَهُ لِمَن ْ لاَ يَعْلَمُهُ صَدَقَةٌ ، وَإِنَّ الْعِلْمَ لَيَنْزِلُ بِصَاحِبِهِ فِى مَوْضِعِ الشَّرَفِ وَالرِّفْعَةِ ، وَالْعِلْمُ زَيْنٌ لِأَهْلِهِ فِى الدُّنْيَا وَالأَخِرَةِ . (الربيع)
Sabtu, 03 Agustus 2013
Abu Nawas Menagkap Angin
Abu Nawas kaget bukan main ketika
seorang utusan Baginda Raja datang ke rumahnya. Ia harus menghadap Baginda
secepatnya. Entah permainan apa lagi yang akan dihadapi kali ini. Pikiran Abu
Nawas berloncatan ke sana kemari. Setelah tiba di istana, Baginda Raja
menyambut Abu Nawas dengan sebuah senyuman.
"Akhir-akhir ini aku sering mendapat gangguan perut. Kata tabib pribadiku,
aku kena serangan angin." kata Baginda Raja memulai pembicaraan.
"Ampun Tuanku, apa yang bisa hamba lakukan hingga hamba dipanggil."
tanya Abu Nawas.
"Aku hanya menginginkan engkau menangkap angin dan memenjarakannya."
kata Baginda. Abu Nawas hanya diam. Tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya.
Ia tidak memikirkan bagaimana cara menangkap angin nanti, tetapi ia bingung
bagaimana cara membuktikan bahwa yang ditangkap itu memang benar-benar angin.
Karena angin tidak bisa dilihat. Tidak ada benda yang lebih aneh dari angin.
Tidak seperti halnya air walaupun tidak berwarna tetapi masih bisa dilihat.
Sedangkan angin tidak. Baginda hanya memberi Abu Nawas waktu tidak lebih dari
tiga hari. Abu Nawas pulang membawa pekerjaan rumah dari Baginda Raja. Namun
Abu Nawas tidak begitu sedih. Karena berpikir sudah merupakan bagian dari
hidupnya, bahkan merupakan suatu kebutuhan. Ia yakin bahwa dengan berpikir akan
terbentang jalan keluar dari kesulitan yang sedang dihariapi. Dan dengan
berpikir pula ia yakin bisa menyumbangkan sesuatu kepada orang lain yang
membutuhkan terutama orang-orang miskin. Karena tidak jarang Abu Nawas menggondol
sepundi penuh uang emas hadiah dari Baginda Raja atas kecerdikannya.
Tetapi sudah dua hari ini Abu Nawas belum juga mendapat akal untuk menangkap
angin apalagi memenjarakannya. Sedangkan besok adalah hari terakhir yang telah
ditetapkan Baginda Raja. Abu Nawas hampir putus asa. Abu Nawas benar - benar
tidak bisa tidur walau hanya sekejap. Mungkin sudah takdir; kayaknya kali ini
Abu Nawas harus menjalani hukuman karena gagal melaksanakan perintah Baginda,
Ia berjalan gontai menuju istana. Di sela-sela kepasrahannya kepada takdir ia
ingat sesuatu, yaitu Aladin dan lampu wasiatnya.
"Bukankah jin itu tidak terlihat?" Abu Nawas bertanya kepada diri
sendiri. ia berjingkrak girang dan segera berlari pulang. Sesampai di rumah ia
secepat mungkin menyiapkan segala sesuatunya kemudian manuju istana. Di pintu
gerbang istana Abu Nawas langsung dipersilahkan masuk oleh para pengawal karena
Baginda sedang menunggu kehadirannya. Dengan tidak sabar Baginda langsung
bertanya kepada Abu Nawas.
"Sudahkah engkau berhasil memenjarakan angin, hai Abu Nawas? "
"Sudah Paduka yang mulia." jawab Abu Nawas dengan muka berseri-seri
sambil mengeluarkan botol yang sudah disumbat. Kemudian Abu Nawas menyerahkan
botol itu. Baginda menimbang-nimang batol itu.
"Mana angin itu, hai Abu Nawas?" tanya Baginda. Di dalam, Tuanku yang
mulia." jawab Abu Nawas penuh takzim. "Aku tak melihat apa-apa."
kata Baginda Raja.
"Ampun Tuanku, memang angin tak bisa dilihat, tetapi bila Paduka ingin
tahu angin, tutup botol itu harus dibuka terlebih dahulu." kata Abu Nawas
menjelaskan. Setelah tutup botol dibuka. Baginda mencium bau busuk. Bau kentut
yang begitu menyengat hidung.
"Bau apa ini, hai Abu Nawas?" tanya Baginda marah. "Ampun Tuanku
yang mulia, tedi hamba buang angin dan hamba. masukkan ke dalam botol. Karena
hamba takut angin yang hamba buang itu keluar maka hamba memenjarakannya dengan
cara menyumbat mulut botol." kata Abu Nawas ketakutan.
Tetapi Baginda tidak jadi marah karena penjelasan Abu Nawas memang masuk akal.
"Heheheheh kau memang pintar Abu Nawas."
Tapi... jangan keburu tertawa dulu, dengar dulu apa kata Abu Nawas.
"Baginda...!"
"Ya Abu Nawas!"
"Hamba sebenarnya cukup pusing memikirkan cara melaksanakan tugas
memenjarakan angin ini."
"Lalu apa maksudmu Abu Nawas?"
"Hamba. minta ganti rugi."
"Kau hendah memeras seorang Raja?"
"Oh, bukan begitu Baginda."
"Lalu apa maumu?"
"Baginda harus memberi saya hadiah berupa uang sekedar untuk bisa belanja
dalam satu bulan."
"Kalau tidak?" tantang Baginda.
"Kalau tidak... hamba akan menceritakan kepada khalayak ramai bahwa
Baginda telah dengan sengaja mencium kentut hamba!"
"Hah?" Baginda kaget dan jengkel tapi kemudian tertawa
terbahak-bahak. "Baik permintaanmu kukabulkan!"
Langganan:
Posting Komentar
(
Atom
)
Tidak ada komentar :
Posting Komentar