#menubar li a, #menubar li a:link{ float:left; padding:8px 12px; color:#fff; text-decoration:none; font-size:13px; font-weight:bold; } #menubar li a:hover, #menubar li a:active, #menubar .current_page_item a { background: #ff0000; color: #fff; text-decoration:none; } #menubar li li a, #menubar li li a:link, #menubar li li a:visited{ font-size: 12px; background: #ff0000; color: #fff; text-decoration:none; width: 150px; padding: 0px 10px; line-height:30px; } #menubar li li a:hover, #menubar li li a:active { background: #000000; color: #ffffff; } #menubar li ul{ z-index:9999; position:absolute; left:-999em; height:auto; width:170px; margin-top:32px; border:1px solid ##ff0000; } #menubar li:hover ul, #menubar li li:hover ul, #menubar li li li:hover ul, #menubar li.sfhover ul, #menubar li li.sfhover ul, #menubar li li li.sfhover ul{ left:auto } #menubar li:hover, #menubar li.sfhover{ position:static }

Rabu, 12 Maret 2014

Memindahkan Istana ke atas Gunung







Memindahkan Istana ke atas Gunung
Baginda Raja baru saja membaca kitab tentang kehebatan Raja Sulaiman yang mampu memerintahkan, para jin memindahkan singgasana Ratu Bilqis di dekat istananya. Baginda tiba-tiba merasa tertarik. Hatinya mulai tergelitik untuk melakukan hal yang sama. Mendadak beliau ingin istananya dipindahkan ke atas gunung agar bisa lebih leluasa menikmati pemandangan di sekitar. Dan bukankah hal itu tidak mustahil bisa dilakukan karena ada Abu Nawas yang amat cerdik di negerinya.

Tanpa membuang waktu Abu Nawas segera dipanggil untuk menghadap Baginda Raja Harun Al Rasyid. Setelah Abu Nawas dihadapkan, Baginda bersabda, "Abu Nawas engkau harus memindahkan istanaku ke atas gunung agar aku lebih leluasa melihat negeriku?" tanya Baginda sambil melirik reaksi Abu Nawas.

Abu Nawas tidak langsung menjawab. Ia berpikir sejenak hingga keningnya berkerut. Tidak mungkin menolak perintah Baginda kecuali kalau memang ingin dihukum. Akhirnya Abu Nawas terpaksa menyanggupi proyek raksasa itu. Ada satu lagi, permintaan dari Baginda, pekerjaan itu harus selesai hanya dalam waktu sebulan. Abu Nawas pulang dengan hati masgul.


Setiap malam ia hanya berteman dengan rembulan dan bintang-bintang. Hari-hari dilewati dengan kegundahan. Tak ada hari yang lebih berat dalam hidup Abu Nawas kecuali hari-hari ini. Tetapi pada hari kesembilan ia tidak lagi merasa gundah gulana. Keesokan harinya Abu Nawas menuju istana. Ia menghadap Baginda untuk membahas pemindahan istana. Dengan senang hati Baginda akan mendengarkan, apa yang diinginkan Abu Nawas.

"Ampun Tuanku, hamba datang ke sini hanya untuk mengajukan usul untuk memperlancar pekerjaan hamba nanti." kata Abu Nawas.
"Apa usul itu?"
"Hamba akan memindahkan istana Paduka yang mulia tepat pada Hari Raya Idul Qurban yang kebetulan hanya kurang dua puluh hari lagi."
"Kalau hanya usulmu, baiklah." kata Baginda.
"Satu lagi Baginda..." Abu Nawas menambahkan.
"Apa lagi?" tanya Baginda.
"Hamba mohon Baginda menyembelih sepuluh ekor sapi yang gemuk untuk dibagikan langsung kepada para fakir miskin." kata Abu Nawas. "Usulmu kuterima." kata Baginda menyetujui. Abu Nawas pulang dengan perasaan riang gembira. Kini tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan. Toh nanti bila waktunya sudah tiba, ia pasti akan dengan mudah memindahkan istana Baginda Raja. Jangankan hanya memindahkan ke puncak gunung, ke dasar samudera pun Abu Nawas sanggup.

Desas-desus mulai tersebar ke seluruh pelosok negeri. Hampir semua orang harap-harap cemas. Tetapi sebagian besar rakyat merasa yakin atas kemampuan Abu Nawas. Karena selama ini Abu Nawas belum pemah gagal melaksanakan tugas-tugas aneh yang dibebankan di atas pundaknya. Namun ada beberapa orang yang meragukan keberhasilan Abu Nawas kali ini. Saat-saat yang dinanti-nantikan tiba. Rakyat berbondong-bondong menuju lapangan untuk melakukan sholat Hari Raya Idul Qurban.




  TINGGAL KENANGAN
Kuu mau kanciL sepertie duLu agie.. karena kancil tak kan pernah tergantikan..
Dirie kalian adalah hal terindah yang pernah qu dapat..
Masa-masa MAN qt lalui bersama.. nama kalian sudah terukir abadi d hatie quu..

I LOVE KANCIL_

Pengertian Ranah Penilaian Afektif

Pengertian Ranah Penilaian Afektif, Ciri-ciri, dan Pengukuran Ranah Penilaian Afektif

1.      Pengertian Ranah Penilaian Afektif

    Ranah afektif adalah ranah yang berkaitan dengan sikap dan nilai. Ranah afektif mencakup watak perilaku seperti perasaan, minat, sikap, emosi, dan nilai.
    Beberapa pakar mengatakan bahwa sikap seseorang dapat diramalkan perubahannya bila seseorang telah memiliki kekuasaan kognitif tingkat tinggi.
    Ciri-ciri hasil belajar afektif akan tampak pada peserta didik dalam berbagai tingkah laku. Seperti: perhatiannnya terhadap mata pelajaran pendidikan agama Islam, kedisiplinannya dalam mengikuti mata pelajaran agama disekolah, motivasinya yang tinggi untuk tahu lebih banyak mengenai pelajaran agama Islam yang di terimanya, penghargaan atau rasa hormatnya terhadap guru pendidikan agama Islam dan sebagainya.

             Ranah afektif menjadi lebih rinci lagi ke dalam lima jenjang, yaitu:
1.  receiving 
2.  responding 
3. valuing
4. organization
5.  characterization by evalue or calue complex

Receiving atau attending (= menerima atua memperhatikan), adalah kepekaan
           seseorang dalam menerima rangsangan (stimulus) dari luar yang datang kepada      dirinya dalam bentuk masalah, situasi, gejala dan lain-lain. Termasuk dalam jenjang ini misalnya adalah: kesadaran dan keinginan untuk menerima stimulus, mengontrol dan menyeleksi gejala-gejala atau rangsangan yang datang dari luar.
Receiving atau attenting juga sering di beri pengertian sebagai kemauan untuk memperhatikan suatu kegiatan atau suatu objek. Pada jenjang ini peserta didik dibina agar mereka bersedia menerima nilai atau nilai-nilai yang di ajarkan kepada mereka, dan mereka mau menggabungkan diri kedalam nilai itu atau meng-identifikasikan diri dengan nilai itu. Contah hasil belajar afektif jenjang receiving , misalnya: peserta didik bahwa disiplin wajib di tegakkan, sifat malas dan tidak di siplin harus disingkirkan jauh-jauh.

Responding (= menanggapi) mengandung arti “adanya partisipasi aktif”. Jadi kemampuan menanggapi adalah kemampuan yang dimiliki oleh seseorang untuk mengikut sertakan dirinya secara aktif dalam fenomena tertentu dan membuat reaksi terhadapnya salah satu cara. Jenjang ini lebih tinggi daripada jenjang receiving. hasil belajar ranah afektif responding adalah peserta didik tumbuh hasratnya untuk mempelajarinya lebih jauh atau menggeli lebih dalam lagi, ajaran-ajaran Islam tentang kedisiplinan.

Valuing (menilai=menghargai). Menilai atau menghargai artinya mem-berikan nilai atau memberikan penghargaan terhadap suatu kegiatan atau obyek, sehingga apabila kegiatan itu tidak dikerjakan, dirasakan akan membawa kerugian atau penyesalan. Valuing adalah merupakan tingkat afektif yang lebih tinggi lagi daripada receiving dan responding. Dalam kaitan dalam proses belajar mengajar, peserta didik disini tidak hanya mau menerima nilai yang diajarkan tetapi mereka telah berkemampuan untuk menilai konsep atau fenomena,  yaitu baik atau buruk. Bila suatu ajaran yang telah mampu mereka nilai dan mampu untuk mengatakan “itu adalah baik”, maka ini berarti bahwa peserta didik telah menjalani proses penilaian. Nilai itu mulai di camkan (internalized) dalam dirinya. Dengan demikian nilai tersebut telah stabil dalam peserta didik. Contoh hasil belajar efektif jenjang valuing adalah tumbuhnya kemampuan yang kuat pada diri peseta didik untuk berlaku disiplin, baik disekolah, dirumah maupun di tengah-tengah kehidupan masyarakat. 

Organization (=mengatur atau mengorganisasikan), artinya memper-temukan perbedaan nilai sehingga terbentuk nilai baru yang universal, yang membawa pada perbaikan umum. Mengatur atau mengorganisasikan merupakan pengembangan dari nilai kedalam satu sistem organisasi, termasuk didalamnya hubungan satu nilai denagan nilai  lain., pemantapan dan perioritas nilai yang telah dimilikinya. Contoh nilai efektif jenjang organization adalah peserta didik mendukung penegakan disiplin nasional yang telah dicanangkan oleh bapak presiden Soeharto pada peringatan hari kemerdekaan nasional tahun 1995.

Characterization by evalue or calue complex (=karakterisasi dengan  suatu nilai atau komplek nilai), yakni keterpaduan semua sistem nilai yang telah dimiliki oleh seseorang, yang mempengaruhi pola kepribadian dan tingkah lakunya.
Disini proses internalisasi nilai telah menempati tempat tertinggi dalal suatu hirarki nilai. Nilai itu telah tertanam secara konsisten pada sistemnya dan telah mempengaruhi emosinya. Ini adalah merupakan tingkat efektif tertinggi, karena sikap batin peserta didik telah benar-benar bijaksana. Ia telah memiliki phyloshopphy of life yang mapan. Jadi pada jenjang ini peserta didik telah memiliki sistem nilai yang telah mengontrol tingkah lakunya untuk suatu waktu yang lama, sehingga membentu karakteristik “pola hidup” tingkah lakunya menetap, konsisten dan dapat diramalkan.
Hasil belajar afektif pada jenjang ini adalah siswa telah memiliki kebulatan sikap wujudnya peserta didik menjadikan perintah Allah SWT yang tertera di Al-Quran menyangkut disiplinan, baik kedisiplinan sekolah, dirumah maupun ditengah-tengan kehidupan masyarakat.
Secara skematik kelima jenjang afektif sebagaimana telah di kemukakan dalam pembicaraan diatas, menurut A.J Nitko (1983) dapat di gambarkan sebagai berikut:
Ranah afektif tidak dapat diukur seperti halnya ranah kognitif, karena dalam ranah afektif kemampuan yang diukur adalah: Menerima (memperhatikan), Merespon,    
Menghargai, Mengorganisasi, dan Karakteristik suatu nilai.
      Skala yang digunakan untuk mengukur ranah afektif  seseorang terhadap kegiatan suatu objek diantaranya skala sikap. Hasilnya berupa kategori sikap, yakni mendukung (positif), menolak (negatif), dan netral. Sikap pada hakikatnya adalah kecenderungan berperilaku pada seseorang. Ada tiga komponen sikap, yakni kognisi, afeksi, dan konasi. Kognisi berkenaan dengan pengetahuan seseorang tentang objek yang dihadapinya. Afeksi berkenaan dengan perasaan dalam menanggapi objek tersebut, sedangkan konasi berkenaan dengan kecenderungan berbuat terhadap objek tersebut. Oleh sebab itu, sikap   selalu bermakna bila dihadapkan kepada objek tertentu.
Skala sikap dinyatakan dalam bentuk pernyataan untuk dinilai oleh responden, apakah pernyataan itu didukung atau ditolaknya, melalui rentangan nilai tertentu. Oleh sebab itu, pernyataan yang diajukan dibagi ke dalam dua kategori, yakni pernyataan positif dan pernyataan negatif.
      Salah satu skala sikap yang sering digunakan adalah skala Likert. Dalam skala Likert, pernyataan-pernyataan yang diajukan, baik pernyataan positif maupun negatif, dinilai oleh subjek dengan sangat setuju, setuju, tidak punya pendapat, tidak setuju, sangat tidak setuju.
   
     2. Ciri-ciri Ranah Penilaian Afektif
     Pemikiran atau perilaku harus memiliki dua kriteria untuk diklasifikasikan sebagai ranah  afektif (Andersen, 1981:4). Pertama, perilaku melibatkan perasaan dan emosi seseorang.
    Kedua, perilaku harus tipikal perilaku seseorang. Kriteria lain yang termasuk ranah afektif adalah intensitas, arah, dan target. Intensitas menyatakan derajat atau kekuatan dari perasaan
.   Beberapa perasaan lebih kuat dari yang lain, misalnya cinta lebih kuat dari senang atau suka. Sebagian orang kemungkinan memiliki perasaan yang lebih kuat dibanding yang lain. Arah perasaan berkaitan dengan orientasi positif atau negatif dari perasaan yang menunjukkan apakah perasaan itu baik atau buruk.
    
      Misalnya senang pada pelajaran dimaknai positif, sedang kecemasan dimaknai negatif.    Bila intensitas dan arah perasaan ditinjau bersama-sama, maka karakteristik afektif berada dalam suatu skala yang kontinum. Target mengacu pada objek, aktivitas, atau ide sebagai arah dari perasaan. Bila kecemasan merupakan karakteristik afektif yang ditinjau, ada beberapa kemungkinan target. Peserta didik mungkin bereaksi terhadap sekolah, matematika, situasi sosial, atau pembelajaran. Tiap unsur ini bisa merupakan target dari kecemasan. Kadang-kadang target ini diketahui oleh seseorang namun kadang-kadang tidak diketahui. Seringkali peserta didik merasa cemas bila menghadapi tes di kelas. Peserta didik tersebut cenderung sadar bahwa target kecemasannya adalah tes.

       Ada 5 tipe karakteristik afektif yang penting berdasarkan tujuannya, yaitu sikap, minat, konsep diri, nilai, dan moral.
  1. Sikap
Sikap merupakan suatu kencendrungan untuk bertindak secara suka atau tidak suka terhadap suatu objek. Sikap dapat dibentuk melalui cara mengamati dan menirukan sesuatu yang positif, kemudian melalui penguatan serta menerima informasi verbal. Perubahan sikap dapat diamati dalam proses pembelajaran, tujuan yang ingin dicapai, keteguhan, dan konsistensi terhadap sesuatu. Penilaian sikap adalah penilaian yang dilakukan untuk mengetahui sikap peserta didik terhadap mata pelajaran, kondisi pembelajaran, pendidik, dan sebagainya.
 
       Menurut Fishbein dan Ajzen (1975) sikap adalah suatu predisposisi yang dipelajari untuk merespon secara positif atau negatif terhadap suatu objek, situasi, konsep, atau orang. Sikap peserta didik terhadap objek misalnya sikap terhadap sekolah atau terhadap mata pelajaran.  
       Sikap peserta didik ini penting untuk ditingkatkan (Popham, 1999). Sikap peserta didik terhadap mata pelajaran, misalnya bahasa Inggris, harus lebih positif setelah peserta didik mengikuti pembelajaran bahasa Inggris dibanding sebelum mengikuti pembelajaran.
       Perubahan ini merupakan salah satu indikator keberhasilan pendidik dalam melaksanakan proses pembelajaran. Untuk itu pendidik harus membuat rencana pembelajaran termasuk pengalaman belajar peserta didik yang membuat sikap peserta didik terhadap mata pelajaran menjadi lebih positif.
     
  1.  Minat
       Menurut Getzel (1966), minat adalah suatu disposisi yang terorganisir melalui pengalaman yang mendorong seseorang untuk memperoleh objek khusus, aktivitas, pemahaman, dan keterampilan untuk tujuan perhatian atau pencapaian. Sedangkan menurut kamus besar bahasa Indonesia (1990: 583), minat atau keinginan adalah kecenderungan hati yang tinggi terhadap sesuatu.
      Hal penting pada minat adalah intensitasnya. Secara umum minat termasuk karakteristik afektif yang memiliki intensitas tinggi.

      Penilaian minat dapat digunakan untuk:
  • mengetahui minat peserta didik sehingga mudah untuk pengarahan dalam pembelajaran,
  • mengetahui bakat dan minat peserta didik yang sebenarnya,
  • pertimbangan penjurusan dan pelayanan individual peserta didik,
  • menggambarkan keadaan langsung di lapangan/kelas,
      Mengelompokkan didik yang memiliki peserta minat sama, f. acuan dalam menilai kemampuan peserta didik secara keseluruhan dan memilih metode yang tepat dalam penyampaian materi,
  • mengetahui tingkat minat peserta didik terhadap pelajaran yang diberikan pendidik,
  • bahan pertimbangan menentukan program sekolah,
  • meningkatkan motivasi belajar peserta didik.
  1. Konsep Diri
      Menurut Smith, konsep diri adalah evaluasi yang dilakukan individu terhadap kemampuan dan kelemahan yang dimiliki. Target, arah, dan intensitas konsep diri pada dasarnya seperti ranah afektif yang lain. Target konsep diri biasanya orang tetapi bisa juga institusi seperti sekolah. Arah konsep diri bisa positif atau negatif, dan intensitasnya bisa dinyatakan dalam suatu daerah kontinum, yaitu mulai dari rendah sampai tinggi.

       Konsep diri ini penting untuk menentukan jenjang karir peserta didik, yaitu dengan mengetahui kekuatan dan kelemahan diri sendiri, dapat dipilih alternatif karir yang tepat bagi peserta didik. Selain itu informasi konsep diri penting bagi sekolah untuk memberikan motivasi belajar peserta didik dengan tepat.
      
      Penilaian konsep diri dapat dilakukan dengan penilaian diri. Kelebihan dari penilaian diri adalah sebagai berikut:
  • Pendidik mampu mengenal kelebihan dan kekurangan peserta didik.
  • Peserta didik mampu merefleksikan kompetensi yang sudah dicapai.
  • Pernyataan yang dibuat sesuai dengan keinginan penanya.
    • Memberikan motivasi diri dalam hal penilaian kegiatan peserta didik.
    • Peserta didik lebih aktif dan berpartisipasi dalam proses pembelajaran.
    • Dapat digunakan untuk acuan menyusun bahan ajar dan mengetahui standar input peserta didik.
    • Peserta didik dapat mengukur kemampuan untuk mengikuti pembelajaran.
    • Peserta didik dapat mengetahui ketuntasan belajarnya.
    • Melatih kejujuran dan kemandirian peserta didik.
    • Peserta didik mengetahui bagian yang harus diperbaiki.
    • Peserta didik memahami kemampuan dirinya.
    • Pendidik memperoleh masukan objektif tentang daya serap peserta didik.
    • Mempermudah pendidik untuk melaksanakan remedial, hasilnya dapat untuk instropeksi pembelajaran yang dilakukan.
    • Peserta didik belajar terbuka dengan orang lain.
    • Peserta didik mampu menilai dirinya.
    • Peserta didik dapat mencari materi sendiri.
    • Peserta didik dapat berkomunikasi dengan temannya.

  1. Nilai
       Nilai menurut Rokeach (1968) merupakan suatu keyakinan tentang perbuatan, tindakan, atau perilaku yang dianggap baik dan yang dianggap buruk. Selanjutnya dijelaskan bahwa sikap mengacu pada suatu organisasi sejumlah keyakinan sekitar objek spesifik atau situasi, sedangkan nilai mengacu pada keyakinan.

      Target nilai cenderung menjadi ide, target nilai dapat juga berupa sesuatu seperti sikap dan perilaku. Arah nilai dapat positif dan dapat negatif. Selanjutnya intensitas nilai dapat dikatakan tinggi atau rendah tergantung pada situasi dan nilai yang diacu.
 
      Definisi lain tentang nilai disampaikan oleh Tyler (1973:7), yaitu nilai adalah suatu objek, aktivitas, atau ide yang dinyatakan oleh individu dalam mengarahkan minat, sikap, dan kepuasan. Selanjutnya dijelaskan bahwa manusia belajar menilai suatu objek, aktivitas, dan ide sehingga objek ini menjadi pengatur penting minat, sikap, dan kepuasan. Oleh karenanya satuan pendidikan harus membantu peserta didik menemukan dan menguatkan nilai yang bermakna dan signifikan bagi peserta didik untuk memperoleh kebahagiaan personal dan memberi konstribusi positif terhadap masyarakat.
  1. Moral
      Piaget dan Kohlberg banyak membahas tentang per-kembangan moral anak.
     Namun Kohlberg mengabaikan masalah hubungan antara judgement moral dan tindakan moral. Ia hanya mempelajari prinsip moral seseorang melalui penafsiran respon verbal terhadap dilema hipotetikal atau dugaan, bukan pada bagaimana sesungguhnya seseorang bertindak.
      Moral berkaitan dengan perasaan salah atau benar terhadap kebahagiaan orang lain atau perasaan terhadap tindakan yang dilakukan diri sendiri. Misalnya menipu orang lain, membohongi orang lain, atau melukai orang lain baik fisik maupun psikis. Moral juga sering dikaitkan dengan keyakinan agama seseorang, yaitu keyakinan akan perbuatan yang berdosa dan berpahala. Jadi moral berkaitan dengan prinsip, nilai, dan keyakinan seseorang.

      Ranah afektif lain yang penting adalah:
  • Kejujuran: peserta didik harus belajar menghargai kejujuran dalam berinteraksi dengan orang lain.
  • Integritas: peserta didik harus mengikatkan diri pada kode nilai, misalnya moral dan artistik.
  • Adil: peserta didik harus berpendapat bahwa semua orang mendapat perlakuan yang sama dalam memperoleh pendidikan.
  • Kebebasan: peserta didik harus yakin bahwa negara yang demokratis memberi kebebasan yang bertanggung jawab secara maksimal kepada semua orang.
Tabel  Kaitan antara kegiatan pembelajaran dengan domain tingkatan aspek Afektif
Tingkat
Contoh kegiatan pembelajaran
Penerimaan (Receiving)
Arti : Kepekaan (keinginan menerima/memperhatikan) terhadap fenomena/stimult menunjukkan perhatian terkontrol dan terseleksi


Kegiatan belajar :
-sering mendengarkan musik
- senang membaca puisi
- senang mengerjakan soal matematik
- ingin menonton sesuatu
- senang menyanyikan lagu
Responsi (Responding)
Arti : menunjukkan perhatian aktif melakukan sesuatu dengan/tentang fenomena setuju, ingin, puas meresponsi (mendengar)
 

Kegiatan belajar :
ü      mentaati aturan
ü      mengerjakan tugas
ü      mengungkapkan perasaan
ü      menanggapi pendapat
ü      meminta maaf atas kesalahan
ü      mendamaikan orang yang bertengkar
ü      menunjukkan empati
ü      menulis puisi
ü      melakukan renungan
ü      melakukan introspeksi
Acuan Nilai
( Valuing)
Arti : Menunjukkan konsistensi perilaku yang mengandung nilai, termotivasi berperilaku sesuai dengan nilai-nilai yang pasti
Tingkatan : menerima, lebih menyukai, dan menunjukkan komitmen terhadap suatu nilai
    

      Kegiatan Belajar :
  • mengapresiasi seni
  • menghargai peran
  • menunjukkan perhatian
  • menunjukkan alasan
  • mengoleksi kaset lagu, novel, atau barang antik
  • menunjukkan simpati kepada korban pelanggaran HAM
  • menjelaskan alasan senang membaca novel
Organisasi
Arti : mengorganisasi nilai-nilai yang relevan ke dalam suatu sistem menentukan saling hubungan antar nilai memantapkan suatu nilai yang dominan dan diterima di mana-mana memantapkan suatu nilaimyang dominan dan diterima di mana-mana
Tingkatan : konseptualisasi suatu nilai, organisasi suatu sistem nilai

      Kegiatan belajar :
  • rajin, tepat waktu
  • berdisiplin diri  mandiri dalam bekerja secara independen
  • objektif dalam memecahkan masalah
  • mempertahankan pola hidup sehat
  • menilai masih pada fasilitas umum dan mengajukan saran perbaikan
  • menyarankan pemecahan masalah HAM
  • menilai kebiasaan konsumsi
  • mendiskusikan cara-cara menyelesaikan konflik antar- teman

3.Pengukuran Ranah Penilaian Afektif
      
       Kompetensi siswa dalam ranah afektif yang perlu dinilai utamanya menyangkut sikap dan minat siswa dalam belajar. Secara teknis penilaian ranah afektif dilakukan melalui dua hal yaitu:
      a. laporan diri oleh siswa yang biasanya dilakukan dengan pengisian angket anonim,
      b. pengamatan sistematis oleh guru terhadap afektif siswa dan perlu lembar pengamatan.

      Ranah afektif tidak dapat diukur seperti halnya ranah kognitif, karena dalam ranah afektif kemampuan yang diukur adalah:
  1. Menerima (memperhatikan), meliputi kepekaan terhadap kondisi, gejala,  kesadaran, kerelaan, mengarahkan perhatian
  2. Merespon,  meliputi merespon secara  diam-diam, bersedia merespon, merasa  puas  dalam merespon, mematuhi peraturan
  3. Menghargai, meliputi menerima suatu nilai, mengutamakan suatu nilai, komitmen terhadap nilai
  4. Mengorganisasi, meliputi mengkonseptualisasikan nilai, memahami hubungan abstrak, mengorganisasi sistem suatu nilai
     Karakteristik suatu nilai, meliputi falsafah hidup dan sistem nilai yang dianutnya.
      Mengamati tingkah laku siswa selama mengikuti proses belajar mengajar berlangsung.
Skala yang sering digunakan dalam instrumen (alat) penilaian afektif adalah Skala Thurstone, Skala Likert, dan Skala Beda Semantik.
        
Skala Thurstone: Minat terhadap pelajaran Pendidikan Agama Islam
7
6
5
4
3
2
1
Saya senang balajar PAI
Pelajaran sejarah bermanfaat
Pelajaran PAI membosankan
Dst….


Skala Likert: Minat terhadap pelajaran Pendidikan Agama Islam
  1. Pelajaran PAI bermanfaat
SS
S
TS
STS
  1. Pelajaran PAI sulit
  1. Tidak semua harus belajar PAI
  1. Sekolah saya menyenangkan
Keterangan: 
SS        : Sangat setuju
S          : Setuju
TS        : Tidak setuju
STS     : Sangat tidak setuju

Lembar Penilaian Diri Siswa
Minat Membaca
Nama Pembelajar:_____________________________
No
Deskripsi
Ya/Tidak
1
Saya lebih suka membaca dibandingkan dengan melakukan hal-hal lain
2
Banyak yang dapat saya ambil hikmah dari buku yang saya baca
3
Saya lebih banyak membaca untuk waktu luang saya
4
Dst…………..
Mengetahui,                                                                         Pamekasan, ...........................................
Kepala Sekolah SD Plus Nurul Hikmah                             Guru Mata Pelajaran PAI

ABI BADRI BIBISONO                                                   

PEMBAGIAN TUGAS GURU

PEMBAGIAN TUGAS GURU
DALAM PROSES BELAJAR MENGAJAR
NO NAMA / NIP MATA KLS JUMLAH  JML
PELAJARAN   JAM PEL. X KELAS JAM
1 ABI BADRI BIBI SONO, S.Pd.I IPS VI 6 X 3 = 18 18
     
2 ABD. LATIP, S. Ag PENJASKES I 2 X 3 = 6 31
  II 2 X 4 = 8
  III 2 X 3 = 6
B. ARAB IV 2 X 3 = 6
AL QURAN II 5
3 HERLINA RAHAYU, S.Pd.I B. MADURA II 2 X 4 = 8 31
B. INDONESIA III 6 X 3 = 18
AL QURAN III 5
4 FAHRUS SHALEH, S.H.I IPS IV 6 X 3 = 18 35
B. MADURA V 2 X 3 = 6
  VI 2 X 3 = 6
AL QURAN IV 5
5 HEFNI, S.Pd.I B. ARAB V 2 X 3 = 6 35
IMLA' V 1 X 3 = 3
AKIDAH AKHLAQ V 1 X 3 = 3
B. INDONESIA VI 6 X 3 = 18
AL QURAN VI 5
6 YUNIATUL KAMARIYAH, S.Si B. MADURA I 2 X 3 = 6 35
  IV 2 X 3 = 6
MATEMATIKA III 6 X 3 = 18
AL QURAN III 5  
7 NUR AZIZAH, S.Pd.I B. INDONESIA II 6 X 4 = 24 35
B. MADURA III 2 X 3 = 6
AL QURAN   5
8 ERWIN YULIASTUTIK, S.Si IPA I 2 X 3 = 6 29
  VI 6 X 3 = 18
AL QURAN   5
9 RIDHA HARIANINGSIH, S.Pd B. INGGRIS I 4 X 3 = 12 41
  III 4 X 3 = 12
  IV 4 X 3 = 12
AL QURAN III 5
10 SUHANDA. S.Pd B. INDONESIA I 6 X 3 = 18 29
KERTAKES V 2 X 3 = 6
AL QURAN I 5
11 AGAMA II 2 X 4 = 8 31
BAHRAWI, S.Pd.I   V 2 X 3 = 6
NIP : 19700717200501100 FIQIH V 2 X 3 = 6
    VI 2 X 3 = 6
  AL QURAN II 5
12 APRILIA EKA RAHMAWATI, S.Pd MATEMATIKA VI 6 X 3 = 18 29
TAJWID I 1 X 3 = 3
B.SHOLAT I 1 X 3 = 3
AL QURAN VI 5
13 NELLY ROFIKA, S.Si KOMPUTER III 2 X 3 = 6 29
MATEMATIKA V 6 X 3 = 18
AL QURAN V 5
14 WAHYUNI AGUSTIN F, S.Pd MATEMATIKA I 6 X 3 = 18 29
KERTAKES IV 2 X 3 = 6
AL QURAN I 5
15 IMILDA WIDIASTUTIK, S.Si IPA II 2 X 4 = 8 31
  VI 6 X 3 = 18
AL QURAN II 5
16 BAMBANG PRAYITNO, S.Pd KOMPUTER IV 2 X 3 = 6 35
B. INGGRIS V 4 X 3 = 12
  VI 4 X 3 = 12
AL QURAN IV 5
17 MOH. HATTA, S.Pd B. INDONESIA V 6 X 3 = 18 29
KERTAKES VI 2 X 3 = 6
AL QURAN V 5
18 LISKHA YUDHISARI, S.Pd IPS III 4 X 3 = 12 35
PENJASKES IV 2 X 3 = 6
  V 2 X 3 = 6
  VI 2 X 3 = 6
AL QURAN III 5
19 FATHOR RAHEM, S.Hum AGAMA I 2 X 3 = 6 29
  VI 2 X 3 = 6
B. ARAB VI 2 X 3 = 6
IMLA' VI 1 X 3 = 3
AKIDAH AKHLAQ VI 1 X 3 = 3
AL QURAN VI 5
20 AHMAD FAUZAN SALMY, S.Pd.I B. ARAB II 2 X 4 = 8 25
KOMPUTER V 2 X 3 = 6
  VI 2 X 3 = 6
AL QURAN I 5
21   TAJWID VI 1 X 3 = 3 11
H. M. IMAM GHAZALI, S.Ag B. SHOLAT VI 1 X 3 = 3
NIP : 197410092009011001 AL QURAN   5
22 SITI ROMLIATUL M, S.Pd PKn I 2 X 3 = 6 35
  VI 2 X 3 = 6
IPS V 6 X 3 = 18
AL QURAN I 5
23 RADEN BUDI SUKMONO, S.Pd.SD MATEMATIKA IV 6 X 3 = 18 19
NIP : 197212062005011001 AL QURAN   1
24   PKn III 2 X 3 = 6 17
SYARIFAH BADIAH, S.Pd.I   IV 2 X 3 = 6
NIP : 197005292009032001 AL QURAN IV 5
25 MIFTAHUL KAMIL, S.Pd.I IMLA' III 1 X 3 = 3 23
AKIDAH AKHLAQ III 1 X 3 = 3
TAJWID IV 1 X 3 = 3
  V 1 X 3 = 3
B. SHOLAT IV 1 X 3 = 3
  V 1 X 3 = 3
AL QURAN IV 5
26 ACHMAD SUBAIRI, S.Si MATEMATIKA II 6 X 4 = 24  29
AL QURAN I 5
27 IBNU HAYAT EFENDI, S.Pd B. INDONESIA IV 6 X 3 = 18 35
PKn V 2 X 3 = 6
TAJWID III 1 X 3 = 3
B. SHOLAT III 1 X 3 = 3
AL QURAN I 5
28 ERLINA WAHYU NINGSIH IPS II 2 X 4 = 8 31
IPA III 6 X 3 = 18
AL QURAN II 5
29 MOH. SYAMSI, S.Pd.I B. ARAB I 2 X 3 = 6 35
KERTAKES I 2 X 3 = 6
AGAMA III 2 X 3 = 6
  IV 2 X 3 = 6
FIQIH IV 2 X 3 = 6
AL QURAN    
30 MILY KUDWATUS SYARIFAH KERTAKES II 2 X 4 = 8 13
AL QURAN II 5
31 NURUL JAMILATUR RAHMAH PKn II 2 X 4 = 8 19
SBK III 2 X 3 = 6
AL QURAN II 5
32 NURUL ISTIQOMAH, S.Psi B. INGGRIS II 4 X 3 = 12 35
IMLA' I 1 X 3 = 3
  II 1 X 4 = 4
AKIDAH AKHLAQ I 1 X 3 = 3
  II 1 X 4 = 4
AL QURAN III 5
33 RINA MARDIYANTI, S.PD IPA IV 6 X 3 = 18 23
AL QURAN III 5
34 MUH MAHFUD, S.Pd.I IMLA' IV 1 X 3 = 3 12
AQIDAH AKHLAQ IV 1 X 3 = 3
B. ARAB III 2 X 3 = 6
35 MUSLIH SAHID IPS I 2 X 3 = 6 18
TAJWID II 1 X 4 = 4
B. SHOLAT II 1 X 4 = 4
AL QURAN I 4
36 SISIL        
       
Pamekasan, 12 Nopember 2013
Kepala Sekolah
Abi Badri Bibisono, S.Pd.I