Pengertian
Ranah Penilaian Afektif, Ciri-ciri, dan Pengukuran Ranah Penilaian Afektif
1. Pengertian
Ranah Penilaian Afektif
Ranah afektif adalah ranah yang
berkaitan dengan sikap dan nilai. Ranah afektif mencakup watak perilaku seperti
perasaan, minat, sikap, emosi, dan nilai.
Beberapa pakar mengatakan bahwa sikap
seseorang dapat diramalkan perubahannya bila seseorang telah memiliki kekuasaan
kognitif tingkat tinggi.
Ciri-ciri hasil belajar afektif akan tampak
pada peserta didik dalam berbagai tingkah laku. Seperti: perhatiannnya terhadap
mata pelajaran pendidikan agama Islam, kedisiplinannya dalam mengikuti mata
pelajaran agama disekolah, motivasinya yang tinggi untuk tahu lebih banyak
mengenai pelajaran agama Islam yang di terimanya, penghargaan atau rasa
hormatnya terhadap guru pendidikan agama Islam dan sebagainya.
Ranah afektif menjadi lebih rinci
lagi ke dalam lima jenjang, yaitu:
1. receiving
2. responding
3. valuing
4. organization
5. characterization by evalue or calue
complex
Receiving atau attending (= menerima atua
memperhatikan), adalah
kepekaan
seseorang dalam menerima rangsangan
(stimulus) dari luar yang datang kepada dirinya
dalam bentuk masalah, situasi, gejala dan lain-lain. Termasuk dalam jenjang ini
misalnya adalah: kesadaran dan keinginan untuk menerima stimulus, mengontrol
dan menyeleksi gejala-gejala atau rangsangan yang datang dari luar.
Receiving atau attenting juga sering di beri
pengertian sebagai kemauan untuk memperhatikan suatu kegiatan atau suatu objek.
Pada jenjang ini peserta didik dibina agar mereka bersedia menerima nilai atau
nilai-nilai yang di ajarkan kepada mereka, dan mereka mau menggabungkan diri
kedalam nilai itu atau meng-identifikasikan diri dengan nilai itu. Contah hasil
belajar afektif jenjang receiving , misalnya: peserta didik bahwa disiplin
wajib di tegakkan, sifat malas dan tidak di siplin harus disingkirkan
jauh-jauh.
Responding (= menanggapi) mengandung arti “adanya
partisipasi aktif”. Jadi kemampuan menanggapi adalah kemampuan yang dimiliki
oleh seseorang untuk mengikut sertakan dirinya secara aktif dalam fenomena
tertentu dan membuat reaksi terhadapnya salah satu cara. Jenjang ini lebih
tinggi daripada jenjang receiving. hasil belajar ranah afektif responding adalah
peserta didik tumbuh hasratnya untuk mempelajarinya lebih jauh atau menggeli
lebih dalam lagi, ajaran-ajaran Islam tentang kedisiplinan.
Valuing (menilai=menghargai). Menilai atau menghargai
artinya mem-berikan nilai atau memberikan penghargaan terhadap suatu kegiatan
atau obyek, sehingga apabila kegiatan itu tidak dikerjakan, dirasakan akan
membawa kerugian atau penyesalan. Valuing adalah merupakan tingkat afektif yang
lebih tinggi lagi daripada receiving dan responding. Dalam kaitan dalam proses belajar
mengajar, peserta didik disini tidak hanya mau menerima nilai yang diajarkan
tetapi mereka telah berkemampuan untuk menilai konsep atau fenomena,
yaitu baik atau buruk. Bila suatu ajaran yang telah mampu mereka nilai dan
mampu untuk mengatakan “itu adalah baik”, maka ini berarti bahwa peserta didik
telah menjalani proses penilaian. Nilai itu mulai di camkan (internalized)
dalam dirinya. Dengan demikian nilai tersebut telah stabil dalam peserta didik.
Contoh hasil belajar efektif jenjang valuing adalah tumbuhnya kemampuan yang
kuat pada diri peseta didik untuk berlaku disiplin, baik disekolah, dirumah
maupun di tengah-tengah kehidupan masyarakat.
Organization (=mengatur atau mengorganisasikan), artinya
memper-temukan perbedaan nilai sehingga terbentuk nilai baru yang universal,
yang membawa pada perbaikan umum. Mengatur atau mengorganisasikan merupakan
pengembangan dari nilai kedalam satu sistem organisasi, termasuk didalamnya
hubungan satu nilai denagan nilai lain., pemantapan dan perioritas nilai
yang telah dimilikinya. Contoh nilai efektif jenjang organization adalah
peserta didik mendukung penegakan disiplin nasional yang telah dicanangkan oleh
bapak presiden Soeharto pada peringatan hari kemerdekaan nasional tahun 1995.
Characterization by evalue or calue complex (=karakterisasi dengan
suatu nilai atau komplek nilai), yakni keterpaduan semua sistem nilai yang
telah dimiliki oleh seseorang, yang mempengaruhi pola kepribadian dan tingkah
lakunya.
Disini proses internalisasi nilai telah menempati tempat
tertinggi dalal suatu hirarki nilai. Nilai itu telah tertanam secara konsisten
pada sistemnya dan telah mempengaruhi emosinya. Ini adalah merupakan tingkat
efektif tertinggi, karena sikap batin peserta didik telah benar-benar
bijaksana. Ia telah memiliki phyloshopphy of life yang mapan. Jadi pada jenjang
ini peserta didik telah memiliki sistem nilai yang telah mengontrol tingkah
lakunya untuk suatu waktu yang lama, sehingga membentu karakteristik “pola
hidup” tingkah lakunya menetap, konsisten dan dapat diramalkan.
Hasil belajar afektif pada jenjang ini adalah siswa
telah memiliki kebulatan sikap wujudnya peserta didik menjadikan perintah Allah
SWT yang tertera di Al-Quran menyangkut disiplinan, baik kedisiplinan sekolah,
dirumah maupun ditengah-tengan kehidupan masyarakat.
Secara skematik kelima jenjang afektif sebagaimana telah di kemukakan dalam
pembicaraan diatas, menurut A.J Nitko (1983) dapat di gambarkan sebagai
berikut:
Ranah afektif tidak dapat diukur seperti halnya ranah
kognitif, karena dalam ranah afektif kemampuan yang diukur adalah: Menerima
(memperhatikan), Merespon,
Menghargai, Mengorganisasi, dan Karakteristik suatu
nilai.
Skala yang digunakan untuk mengukur
ranah afektif seseorang terhadap kegiatan suatu objek diantaranya skala
sikap. Hasilnya berupa kategori sikap, yakni mendukung (positif), menolak
(negatif), dan netral. Sikap pada hakikatnya adalah kecenderungan berperilaku
pada seseorang. Ada tiga komponen sikap, yakni kognisi, afeksi, dan
konasi. Kognisi berkenaan dengan pengetahuan seseorang tentang
objek yang dihadapinya. Afeksi berkenaan dengan perasaan dalam
menanggapi objek tersebut, sedangkan konasi berkenaan dengan
kecenderungan berbuat terhadap objek tersebut. Oleh sebab itu,
sikap selalu bermakna bila dihadapkan kepada objek tertentu.
Skala sikap dinyatakan dalam bentuk pernyataan untuk dinilai oleh responden,
apakah pernyataan itu didukung atau ditolaknya, melalui rentangan nilai
tertentu. Oleh sebab itu, pernyataan yang diajukan dibagi ke dalam dua
kategori, yakni pernyataan positif dan pernyataan negatif.
Salah satu skala sikap yang sering
digunakan adalah skala Likert. Dalam skala Likert, pernyataan-pernyataan yang
diajukan, baik pernyataan positif maupun negatif, dinilai oleh subjek dengan
sangat setuju, setuju, tidak punya pendapat, tidak setuju, sangat tidak setuju.
2. Ciri-ciri Ranah Penilaian Afektif
Pemikiran atau perilaku harus
memiliki dua kriteria untuk diklasifikasikan sebagai ranah afektif (Andersen, 1981:4). Pertama, perilaku
melibatkan perasaan dan emosi seseorang.
Kedua, perilaku harus tipikal perilaku
seseorang. Kriteria lain yang termasuk ranah afektif adalah intensitas, arah,
dan target. Intensitas menyatakan derajat atau kekuatan dari perasaan
. Beberapa perasaan lebih kuat dari yang lain,
misalnya cinta lebih kuat dari senang atau suka. Sebagian orang kemungkinan
memiliki perasaan yang lebih kuat dibanding yang lain. Arah perasaan berkaitan
dengan orientasi positif atau negatif dari perasaan yang menunjukkan apakah
perasaan itu baik atau buruk.
Misalnya senang pada pelajaran dimaknai
positif, sedang kecemasan dimaknai negatif. Bila intensitas dan arah perasaan ditinjau
bersama-sama, maka karakteristik afektif berada dalam suatu skala yang
kontinum. Target mengacu pada objek, aktivitas, atau ide sebagai arah dari
perasaan. Bila kecemasan merupakan karakteristik afektif yang ditinjau, ada
beberapa kemungkinan target. Peserta didik mungkin bereaksi terhadap sekolah,
matematika, situasi sosial, atau pembelajaran. Tiap unsur ini bisa merupakan
target dari kecemasan. Kadang-kadang target ini diketahui oleh seseorang namun
kadang-kadang tidak diketahui. Seringkali peserta didik merasa cemas bila
menghadapi tes di kelas. Peserta didik tersebut cenderung sadar bahwa target
kecemasannya adalah tes.
Ada 5 tipe karakteristik afektif yang
penting berdasarkan tujuannya, yaitu sikap, minat, konsep diri, nilai, dan
moral.
- Sikap
Sikap
merupakan suatu kencendrungan untuk bertindak secara suka atau tidak suka terhadap
suatu objek. Sikap dapat dibentuk melalui cara mengamati dan menirukan sesuatu
yang positif, kemudian melalui penguatan serta menerima informasi verbal.
Perubahan sikap dapat diamati dalam proses pembelajaran, tujuan yang ingin
dicapai, keteguhan, dan konsistensi terhadap sesuatu. Penilaian sikap adalah
penilaian yang dilakukan untuk mengetahui sikap peserta didik terhadap mata
pelajaran, kondisi pembelajaran, pendidik, dan sebagainya.
Menurut Fishbein dan Ajzen (1975) sikap
adalah suatu predisposisi yang dipelajari untuk merespon secara positif atau
negatif terhadap suatu objek, situasi, konsep, atau orang. Sikap peserta didik
terhadap objek misalnya sikap terhadap sekolah atau terhadap mata pelajaran.
Sikap peserta didik ini penting untuk
ditingkatkan (Popham, 1999). Sikap peserta didik terhadap mata pelajaran,
misalnya bahasa Inggris, harus lebih positif setelah peserta didik mengikuti
pembelajaran bahasa Inggris dibanding sebelum mengikuti pembelajaran.
Perubahan ini merupakan salah satu
indikator keberhasilan pendidik dalam melaksanakan proses pembelajaran. Untuk
itu pendidik harus membuat rencana pembelajaran termasuk pengalaman belajar
peserta didik yang membuat sikap peserta didik terhadap mata pelajaran menjadi
lebih positif.
- Minat
Menurut Getzel (1966), minat adalah
suatu disposisi yang terorganisir melalui pengalaman yang mendorong seseorang
untuk memperoleh objek khusus, aktivitas, pemahaman, dan keterampilan untuk
tujuan perhatian atau pencapaian. Sedangkan menurut kamus besar bahasa
Indonesia (1990: 583), minat atau keinginan adalah kecenderungan hati yang
tinggi terhadap sesuatu.
Hal penting pada minat adalah
intensitasnya. Secara umum minat termasuk karakteristik afektif yang memiliki
intensitas tinggi.
Penilaian minat dapat digunakan untuk:
- mengetahui minat peserta didik
sehingga mudah untuk pengarahan dalam pembelajaran,
- mengetahui bakat dan minat
peserta didik yang sebenarnya,
- pertimbangan penjurusan dan
pelayanan individual peserta didik,
- menggambarkan keadaan langsung
di lapangan/kelas,
Mengelompokkan didik yang memiliki
peserta minat sama, f. acuan dalam menilai kemampuan peserta didik secara
keseluruhan dan memilih metode yang tepat dalam penyampaian materi,
- mengetahui tingkat minat
peserta didik terhadap pelajaran yang diberikan pendidik,
- bahan pertimbangan menentukan
program sekolah,
- meningkatkan motivasi belajar
peserta didik.
- Konsep Diri
Menurut Smith, konsep diri adalah
evaluasi yang dilakukan individu terhadap kemampuan dan kelemahan yang
dimiliki. Target, arah, dan intensitas konsep diri pada dasarnya seperti ranah
afektif yang lain. Target konsep diri biasanya orang tetapi bisa juga institusi
seperti sekolah. Arah konsep diri bisa positif atau negatif, dan intensitasnya
bisa dinyatakan dalam suatu daerah kontinum, yaitu mulai dari rendah sampai
tinggi.
Konsep diri ini penting untuk menentukan
jenjang karir peserta didik, yaitu dengan mengetahui kekuatan dan kelemahan
diri sendiri, dapat dipilih alternatif karir yang tepat bagi peserta didik.
Selain itu informasi konsep diri penting bagi sekolah untuk memberikan motivasi
belajar peserta didik dengan tepat.
Penilaian konsep diri dapat dilakukan
dengan penilaian diri. Kelebihan dari penilaian diri adalah sebagai berikut:
- Pendidik mampu mengenal
kelebihan dan kekurangan peserta didik.
- Peserta didik mampu
merefleksikan kompetensi yang sudah dicapai.
- Pernyataan yang dibuat sesuai
dengan keinginan penanya.
- Memberikan motivasi diri dalam
hal penilaian kegiatan peserta didik.
- Peserta didik lebih aktif dan
berpartisipasi dalam proses pembelajaran.
- Dapat digunakan untuk acuan
menyusun bahan ajar dan mengetahui standar input peserta didik.
- Peserta didik dapat mengukur
kemampuan untuk mengikuti pembelajaran.
- Peserta didik dapat mengetahui
ketuntasan belajarnya.
- Melatih kejujuran dan
kemandirian peserta didik.
- Peserta didik mengetahui
bagian yang harus diperbaiki.
- Peserta didik memahami
kemampuan dirinya.
- Pendidik memperoleh masukan
objektif tentang daya serap peserta didik.
- Mempermudah pendidik untuk
melaksanakan remedial, hasilnya dapat untuk instropeksi pembelajaran yang
dilakukan.
- Peserta didik belajar terbuka
dengan orang lain.
- Peserta didik mampu menilai
dirinya.
- Peserta didik dapat mencari
materi sendiri.
- Peserta didik dapat
berkomunikasi dengan temannya.
- Nilai
Nilai menurut Rokeach (1968) merupakan
suatu keyakinan tentang perbuatan, tindakan, atau perilaku yang dianggap baik
dan yang dianggap buruk. Selanjutnya dijelaskan bahwa sikap mengacu pada suatu
organisasi sejumlah keyakinan sekitar objek spesifik atau situasi, sedangkan
nilai mengacu pada keyakinan.
Target nilai cenderung menjadi ide,
target nilai dapat juga berupa sesuatu seperti sikap dan perilaku. Arah nilai
dapat positif dan dapat negatif. Selanjutnya intensitas nilai dapat dikatakan
tinggi atau rendah tergantung pada situasi dan nilai yang diacu.
Definisi lain tentang nilai disampaikan
oleh Tyler (1973:7), yaitu nilai adalah suatu objek, aktivitas, atau ide yang
dinyatakan oleh individu dalam mengarahkan minat, sikap, dan kepuasan.
Selanjutnya dijelaskan bahwa manusia belajar menilai suatu objek, aktivitas,
dan ide sehingga objek ini menjadi pengatur penting minat, sikap, dan kepuasan.
Oleh karenanya satuan pendidikan harus membantu peserta didik menemukan dan
menguatkan nilai yang bermakna dan signifikan bagi peserta didik untuk
memperoleh kebahagiaan personal dan memberi konstribusi positif terhadap
masyarakat.
- Moral
Piaget dan Kohlberg banyak membahas
tentang per-kembangan moral anak.
Namun Kohlberg mengabaikan masalah
hubungan antara judgement moral dan tindakan moral. Ia hanya
mempelajari prinsip moral seseorang melalui penafsiran respon verbal terhadap
dilema hipotetikal atau dugaan, bukan pada bagaimana sesungguhnya seseorang
bertindak.
Moral berkaitan dengan perasaan
salah atau benar terhadap kebahagiaan orang lain atau perasaan terhadap
tindakan yang dilakukan diri sendiri. Misalnya menipu orang lain, membohongi
orang lain, atau melukai orang lain baik fisik maupun psikis. Moral juga sering
dikaitkan dengan keyakinan agama seseorang, yaitu keyakinan akan perbuatan yang
berdosa dan berpahala. Jadi moral berkaitan dengan prinsip, nilai, dan
keyakinan seseorang.
Ranah afektif lain yang penting adalah:
- Kejujuran: peserta didik harus
belajar menghargai kejujuran dalam berinteraksi dengan orang lain.
- Integritas: peserta didik harus
mengikatkan diri pada kode nilai, misalnya moral dan artistik.
- Adil: peserta didik harus
berpendapat bahwa semua orang mendapat perlakuan yang sama dalam
memperoleh pendidikan.
- Kebebasan: peserta didik harus
yakin bahwa negara yang demokratis memberi kebebasan yang bertanggung
jawab secara maksimal kepada semua orang.
Tabel
Kaitan antara kegiatan pembelajaran dengan domain tingkatan aspek Afektif
Tingkat
|
Contoh
kegiatan pembelajaran
|
Penerimaan
(Receiving)
|
Arti :
Kepekaan (keinginan menerima/memperhatikan) terhadap fenomena/stimult
menunjukkan perhatian terkontrol dan terseleksi
Kegiatan
belajar :
-sering mendengarkan musik
- senang membaca puisi
- senang mengerjakan soal matematik
- ingin menonton sesuatu
- senang menyanyikan lagu
|
Responsi
(Responding)
|
Arti :
menunjukkan perhatian aktif melakukan sesuatu dengan/tentang fenomena setuju,
ingin, puas meresponsi (mendengar)
Kegiatan
belajar :
ü mentaati aturan
ü mengerjakan tugas
ü mengungkapkan perasaan
ü menanggapi pendapat
ü meminta maaf atas kesalahan
ü mendamaikan orang yang bertengkar
ü menunjukkan empati
ü menulis puisi
ü melakukan renungan
ü melakukan introspeksi
|
Acuan
Nilai
( Valuing)
|
Arti :
Menunjukkan konsistensi perilaku yang mengandung nilai, termotivasi
berperilaku sesuai dengan nilai-nilai yang pasti
Tingkatan : menerima, lebih menyukai, dan menunjukkan komitmen terhadap suatu
nilai
Kegiatan Belajar :
- mengapresiasi
seni
- menghargai
peran
- menunjukkan
perhatian
- menunjukkan
alasan
- mengoleksi
kaset lagu, novel, atau barang antik
- menunjukkan
simpati kepada korban pelanggaran HAM
- menjelaskan
alasan senang membaca novel
|
Organisasi
|
Arti :
mengorganisasi nilai-nilai yang relevan ke dalam suatu sistem menentukan
saling hubungan antar nilai memantapkan suatu nilai yang dominan dan diterima
di mana-mana memantapkan suatu nilaimyang dominan dan diterima di mana-mana
Tingkatan : konseptualisasi suatu nilai, organisasi suatu sistem nilai
Kegiatan belajar :
- rajin,
tepat waktu
- berdisiplin
diri mandiri dalam bekerja secara independen
- objektif
dalam memecahkan masalah
- mempertahankan
pola hidup sehat
- menilai
masih pada fasilitas umum dan mengajukan saran perbaikan
- menyarankan
pemecahan masalah HAM
- menilai
kebiasaan konsumsi
- mendiskusikan
cara-cara menyelesaikan konflik antar- teman
|
3.Pengukuran
Ranah Penilaian Afektif
Kompetensi siswa dalam ranah afektif
yang perlu dinilai utamanya menyangkut sikap dan minat siswa dalam belajar.
Secara teknis penilaian ranah afektif dilakukan melalui dua hal yaitu:
a. laporan diri oleh siswa yang biasanya
dilakukan dengan pengisian angket anonim,
b. pengamatan sistematis oleh guru
terhadap afektif siswa dan perlu lembar pengamatan.
Ranah afektif tidak dapat diukur seperti
halnya ranah kognitif, karena dalam ranah afektif kemampuan yang diukur adalah:
- Menerima (memperhatikan),
meliputi kepekaan terhadap kondisi, gejala, kesadaran, kerelaan,
mengarahkan perhatian
- Merespon, meliputi
merespon secara diam-diam, bersedia merespon, merasa
puas dalam merespon, mematuhi peraturan
- Menghargai, meliputi menerima
suatu nilai, mengutamakan suatu nilai, komitmen terhadap nilai
- Mengorganisasi, meliputi
mengkonseptualisasikan nilai, memahami hubungan abstrak, mengorganisasi
sistem suatu nilai
Karakteristik suatu nilai, meliputi
falsafah hidup dan sistem nilai yang dianutnya.
Mengamati tingkah laku siswa selama
mengikuti proses belajar mengajar berlangsung.
Skala yang sering digunakan dalam instrumen (alat) penilaian afektif adalah
Skala Thurstone, Skala Likert, dan Skala Beda Semantik.
Skala
Thurstone: Minat terhadap pelajaran Pendidikan Agama Islam
|
7
|
6
|
5
|
4
|
3
|
2
|
1
|
Saya
senang balajar PAI
|
|
|
|
|
|
|
|
Pelajaran
sejarah bermanfaat
|
|
|
|
|
|
|
|
Pelajaran PAI
membosankan
|
|
|
|
|
|
|
|
Dst….
|
|
|
|
|
|
|
|
Skala
Likert: Minat terhadap pelajaran Pendidikan Agama Islam
- Pelajaran
PAI bermanfaat
|
SS
|
S
|
TS
|
STS
|
- Pelajaran
PAI sulit
|
|
|
|
|
- Tidak
semua harus belajar PAI
|
|
|
|
|
- Sekolah
saya menyenangkan
|
|
|
|
|
Keterangan:
SS : Sangat setuju
S : Setuju
TS : Tidak setuju
STS : Sangat tidak setuju
Lembar
Penilaian Diri Siswa
Minat Membaca
Nama Pembelajar:_____________________________
No
|
Deskripsi
|
Ya/Tidak
|
1
|
Saya lebih
suka membaca dibandingkan dengan melakukan hal-hal lain
|
|
2
|
Banyak
yang dapat saya ambil hikmah dari buku yang saya baca
|
|
3
|
Saya lebih
banyak membaca untuk waktu luang saya
|
|
4
|
Dst…………..
|
|
Mengetahui,
Pamekasan, ...........................................
Kepala Sekolah SD Plus Nurul Hikmah Guru Mata
Pelajaran PAI
ABI BADRI BIBISONO