KETIKA IBNUL QAYYIM BICARA TENTANG CINTA
Ada sebuah fenomena yang terus menggelitik benak saya. Betapa
produktifnya para penyanyi menciptakan syair-syair lagu cinta. Dari yang lembut
seperti gayanya Ebiet G.Ade atau Katon Bagaskara, hingga yang kocak dan kadang
kelewatan seperti Iwan Fals dan Doel Sumbang. Kalau mendengar lirik-lirik lagu
dangdut, bukan main, benar-benar diaduk-aduk emosi cinta itu sedemikian rupa.
Dan, sungguh, banyak orang menjadi penggemar dan hanyut dalam lirik-lirik lagu
itu.
Saya juga melihat fenomena larisnya film-film tema cinta remaja.
Zaman saya remaja, dunia layar lebar dihiasi Gita Cinta dari SMA, Kabut Sutra
Ungu, dan judul-judul lain yang saya sudah lupa. Beberapa diantara film itu
diangkat dari cerbung-cerbung Eddy D. Iskandar dan di-sound track-i lagu-lagu
Chrisye. Beberapa tahun lalu diantara film yang dianggap menjadi momentum
kebangkitan kembali perfilman nasional adalah “Ada Apa dengan Cinta” dan
dilanjutkan film lain seperti Eiffel, I’m in Love.
Di tambah film yang ngetop saat ini, “Ayat-ayat Cinta”. Televisi pun kebanjiran
sinetron-sinetron bertema cinta yang menyibak suasana kejiwaan orang yang
kasmaran plus intrik perebetun harta, tahta dan wanita.
Ya, saya bertanya-tanya kenapa tema cinta tak pernah ada habis-
habisnya ditulis, disusun liriknya dan kemudian dinyanyikan atau difilemkan.
Sampai kemudian saya menemukan tulisan-tulisan Anis Matta dalam Thumuhat
(Gelora) Cinta pada majalah Tarbawi. Dia cukup sering mengangkat kisah dari
tulisan Ibnul Qayyim. Sampai kemudian seorang sahabat saya memperlihatkan
“Taman Orang-orang yang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu” yang ditulis Ibnul
Qayyim.
Ya, ya … saya menemukan masalah cinta ini disibak Ibnul Qayyim dengan sangat
detil dan gamblang. Tadinya saya menduga beliau akan menulis bahwa cinta
tertinggi itu bagi Allah dan cinta lain haruslah demi cinta pamuncak itu,
selebihnya tulisan akan mengungkap penjabarannya. Saya salah. Ternyata beliau
terus menuliskan sisi-sisi kejiwaan orang-orang yang jatuh cinta. Jadi buku ini
betul-betul berbicara tentang manusia yang tak mungkin lepas dari jatuh cinta
dan merindukan orang yang dicintai.
Keunggulan karya
Ibnu Qayyim adalah lagam bahasa ‘romantisme’nya dan kejujuran beliau. Saya
membaca dua karya beliau yaitu ‘Taman-taman orang Jatuh Cinta” dan buku yang
paling bagus untuk referensi memenangkan hidup “ Shaidul Khaatir” (Cara cerdas,
Manusia menang dalam hidup). Khusus Shaidul Khaatir, Dr Aid Al Qarni memberikan
testimoninya.Buku ini lebih mewah isinya dibanding “La Tahzan”. Dua buku ini cukup
menarik saya untuk mengkoleksi atau minimal membaca karyanya yang lain seperti
Roh. Jujur saja kata-kata ‘asmara’ didalam jalinan kalimatnya, membuat hati ini
tersentuh rasa jatuh cinta.
Saya membuka lagi halaman-halaman awal buku. Cinta dalam bahasa
Arab diwakili dengan lima puluh kata berbeda. Tidak! Bahkan ada banyak lagi
kata yang bermakna cinta, hanya saja beliau membatasi pada kata-kata yang
terkait dengan bahasannya pada buku itu.
Oh, ternyata para
ulama dulu pun bicara cinta. Cinta buta, cinta yang membuat gila, cinta yang
membuat sakit dan bahkan membuat si pencinta mati karenanya. Ibnul Qayyim
mengungkapkan gejolak-gejolak cinta yang melanda seorang pemuda yang terkenal
shalih dan wara’ kepada seorang perempuan yang ia dengar suara nyanyiannya hingga
tanya jawab seorang khalifah kaum muslimin dengan para ulama seputar makna
cinta buta. Untuk itu di beberapa tempat pandangan Aristoteles pun dikutipnya.
Beliau juga mengangkat tanya-jawab dan fatwa-fatwa ulama
terkenal seputar cinta. Bahkan kisah cinta buta ini dijumpai pada masa ketika
Nabi Muhammad saw masih hidup, pada kisah Mugits yang begitu tergila-gila
mencintai Barirah. Dan Nabi mendiamkan kondisi Mugits dan memakluminya. Ini
menjadi salah satu diskusi yang dikembangkan Ibnul Qayyim pada topik apakah
cinta buta itu takdir atau sesuatu yang dibuat.
Kesimpulan
sementara yang saya fahami, cinta itu bak penyakit yang menyerang jiwa. Si
pencinta tak pernah tahu kapan cinta merasuk jiwanya dan gejolak cinta itu akan
terus mendorongnya untuk memuaskan hasrat cintanya. Karenanya Anis Matta pernah
menulis satu kolom berjudul “Kasihanilah Para Pencinta” pada Thumuhat-nya.
Tahulah saya tema cinta itu tak akan pernah sepi dari kehidupan manusia. Tema
cinta bukanlah untuk dihentikan, tapi untuk diarahkan.
Saat saya menulis
ini, buku Taman Orang-orang yang Jatuh Cinta tidak di dekat saya, sehingga saya
tidak bisa mengutip syair-syair cinta yang buanyak tersebar di dalamnya. Ada
beberapa yang saya ingat maknanya. Ini salah satunya:
cinta itu membuat
engkau buta
akan cela yang
dicinta
dan engkau
rela
pada apapun
keadaannya
cinta itu
ketika menghujam
membuatmu siap
berkorban
untuk yang
dicinta
Saya masih
membaca buku itu (maklum dibaca ketika sudah agak malam, saat anak-anak sudah
asyik tertidur). Ada beberapa tujuan. Yang paling dekat adalah untuk memahami
diri sendiri yang belakangan kok sedang jatuh cinta (lagi) dan juga sesak
memendam rindu … .
Yang berikutnya adalah untuk memahami anak-anak didik (siswa)
saya yang menjelang remaja. Saya ingin mengajarkan makna cinta yang indah ini
secara benar kepada mereka. Jangan sampai mereka menyimpulkan cinta dari
tontonan dan bacaan yang tidak benar atau paling tidak manipulatif.
Yang berikutnya lagi, saya cukup sering bertemu sahabat-sahabat
yang dirundung penyakit cinta dan rindu. Kisah cinta dan rindu ini nampaknya
sederhana, tapi setelah diselami permasalahannya tidak sesimpel yang
dibayangkan. Dan berikutnya yang terakhir, paling tidak untuk menutup tulisan
ini, masalah cinta ini menjadi masalah sosial
yang akut.
Bukan hanya menimpa para remaja yang terseok-seok atau tersesat
ketika mencoba memahaminya, akan tetapi juga pada keluarga-keluarga yang sudah
lama menikah tapi masih saja penuh kesulitan saling mengeja arti cinta di rumah
masing-masing.
Wa Allahu a’lamu
bish shawwab.
Tidak ada komentar :
Posting Komentar